Dengan tekun dan penuh perhatian, saya menyimak kalimat demi kalimat yang dibaca oleh mereka yang duduk pada bangku2 sekolah disebelahku. Sambil terus menerus berusaha mengumpulkan kekuatan dan keyakinan, bahwa sesungguhnya saya bisa melakukannya. Dadaku semakin berdebar kencang, nafasku makin tidak beraturan, ketika semakin mendekati giliranku untuk membaca. Dan aku akhirnya harus kembali menyerah, saya tidak bisa, begitu bisik hati kecilku. Perlahan kuangkat tangan mungilku, "ma'af bu,ijin ke belakang sebentar". Begitu alasanku setiap kali, dan selalu kulakukan ketika menjelang giliranku membaca buku pelajaran.
Lama2 para guru akhirnya mengetahui akal2anku ini, karena terlalu sering dan kerapkali saya lakukan di kelas, dan selalu terjadi ketika kami para murid harus bergiliran membaca buku pelajaran sekolah. Mereka tidak melarangku untuk ke belakang setiap kali, namun tetap menyuruhku membaca begitu aku telah kembali dari belakang. Aku masih ingat dengan jelas pandangan iba dari teman2 sekelasku, setiap kali saya tidak bisa menyelesaikan tugasku membaca. Beberapa teman bahkan berbaik hati menawarkan untuk mengambil ambil tugasku, namun tidak pernah diijinkan oleh guruku.
Lama2 para guru akhirnya mengetahui akal2anku ini, karena terlalu sering dan kerapkali saya lakukan di kelas, dan selalu terjadi ketika kami para murid harus bergiliran membaca buku pelajaran sekolah. Mereka tidak melarangku untuk ke belakang setiap kali, namun tetap menyuruhku membaca begitu aku telah kembali dari belakang. Aku masih ingat dengan jelas pandangan iba dari teman2 sekelasku, setiap kali saya tidak bisa menyelesaikan tugasku membaca. Beberapa teman bahkan berbaik hati menawarkan untuk mengambil ambil tugasku, namun tidak pernah diijinkan oleh guruku.


